Tali Allah

Saya selalu punya islam,.. Sejak lahir islam telah dipilihkan oleh nenek moyang saya entah beberapa generasi sebelumnya dan langsung diwariskan, tanpa saya harus memperjuangkannya. Tidak perlu saya dipusingkan dengan opsi lain.
Mungkin karena itu saya menjadi sekedarnya saja memegang tali agama..

……
Dihadapkan pada situasi dimana saya harus membela ‘tali’ yang sebenarnya tak pernah terlalu saya hiraukan dan kehilangan anggan-anggan yg sungguh sangat konyol- namun somehow tampak teramat important saat itu. Membuat saya menatap tajam kepada ‘tali’ tersebut.

Saya semacam paham akan pentingnya ‘tali’ ini. namun amat samar bagi saya akan urgensi-nya, terutama saat saya harus menjelaskan kepada jiwa saya sendiri kenapa ‘tali’ ini begitu penting sehingga keputusan akan banyak hal, harus disandarkan pada ‘tali’ ini… Tidak. bisa. tidak. Dan ini berakibat pada keputusan yang sangat tidak ingin saya buat.

Namun bukankah kita selalu di nasihati untuk men-challange status quo.. Untuk bertanya? Mengkritisi?.. Dan itulah yang saya lakukan.

dan ‘tali’ tersebut bersama saya, mesra.. lembut.. sabar.. Menjawab semua ragu, menepis semua sangka, hingga saya paham, hingga saya mengerti.. hingga saya dapat menerima… bahwa ‘tali’ ini penting. buat saya, jiwa saya, jangan sampai berani melepaskannya lagi.

Allah yang tak terlalu saya kenal dulu namun dengan amat sangat baik mengenal diri saya.. dan bagaimana membujuk dan membuat saya jatuh cinta padaNya.

“Whoever loves to meet God, God loves to meet him.”

Allah yang saya sadari kini amat sangat mengawasi saya tanpa lelah,.. memperhatikan setiap gerak gerik saya, memastikan berbagai penghalang antara saya dan kehancuran saya.. Allah yang memastikan ‘tali’ itu walau beberapa kali terlepas dari tangan saya, namun selalu dalam jangkauan saya.. Allah yang selalu dengan sabar mengembalikan tali tersebut ke tangan saya hingga saya memahami nilainya.. hingga saya paham bahwa saya teramat di sayangi. Bahwa saya terlalu berharga untuk dibiarkan terlepas tanpa tali yang mengikat saya..

For everything there is a way to purify it, -Muhammad SAW

Allah yang dengan sabar menunggu pemberontakan saya berhenti,.. Allah yang menunggu saya kembali setelah saya kehabisan akal untuk mengajukan berbagai keberatan yang tak memiliki dasar selain dari hal konyol yang menyibukkan saya dari mencariNya .. Allah yang sangat mencintai saya, tanpa lelah menunggu hingga saya kembali.. Allah yang memastikan saya telah kembali sebelum saya benar-benar harus kembali kepadaNya.

“From the perfection of Allah’s ihsan is that He allows His slave to taste the bitterness of the break before the sweetness of the mend.
So He does not break his believing slave, except to mend him. And He does not withhold from him, except to give him. And He does not test him (with hardship), except to cure him.”

[Imam Ibn al Qayyim Al-Jawziyyah RahimahuAllah]

Allah telah memenangkan saya dengan ‘tali’-Nya. memenangkan saya sebagai hambaNya.. saat saya melepaskan berbagai hal yang dulu membebani saya, dan juga saat saya mengenakan hijab pertama kali, dan juga sekarang saat saya berusaha melakukan segalanya dengan cara yg disukaiNya..

Kalau bukan cinta, itu apa?

1 Comment

Leave a reply to teguhkuspangestu Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.